Laundry

August 17th, 2006 | Uncategorized | 6 comments

Last week I felt quilty cause I broke my promise to help Nino handling the laundry - twice.

I still found it hard to wake up early in the morning, specially in winter.

But then I found doing the laundry is easy. Not as hard as I imagine doing it at my home (w/ the 2 tub washing machine). Just pour the detergent, load the clothes, insert coins, and let the machine doing the rest.

Hem, now I feel less quilty.

A.K.

  • RSS CIKELIN CHRONICLE

    • Resep October 13, 2009
      I am a complete idiot on cooking. Ibu saya piawai memasak masakan super lezat. Sayangnya bakat itu tidak 'menurun' ke saya.Kok bisa ibunya pinter masak tapi anaknya gak bisa masak sama sekali? Entahlah. Seingat saya waktu kecil dulu saya juga sering disuruh membantu ibu di dapur. Tapi ibu tidak pernah sabar dengan hasil kerja saya yang lambat dan tidak sempurna. Asal tahu saja, ibu saya sangat cepat dan trengginas dalam bekerja, dengan hasil sempurna. Seringnya, bantuan saya malah menghambat kerja ibu, jadi saya sering diusir dari dapur.  Alhasil, saya tidak mewarisi ketrampilan memasak ibu.Tapi saya tidak bisa menyalahkan ibu yang terlalu pintar memasak. Nyatanya adik saya juga berbakat memasak. Dia lebih sukses menjadi apprentice ibu. Sepertinya, masalahnya memang ada pada diri saya sendiri.Tinggal di negeri orang memaksa saya memasak sendiri. Sehari-hari kami makan makanan Indonesia. Suami saya termasuk orang yang belum kenyang kalau belum makan nasi. Dulu saya selalu mengan...
    • Penulis Kurang Gizi August 14, 2009
      Tinggal di Sydney membuat saya kekurangan suplai bacaan bergizi, terutama novel-novel Indonesia terbaru.Memang sih, di sini saya bisa membaca novel-novel berbahasa Inggris terbaru. Tinggal pinjam di perpus, gratis. Saya mudah mendapatkan novel Stephenie Meyer setelah Twilight, buku fairytale terbaru JK Rowling, novel Gossip Girl dan lanjutannya: IT Girl. Saya juga punya koleksi diary  Adrian Mole, Jodi Picoult dan Judy Blume. Saking banyaknya buku dan sedikitnya waktu, buku-buku dari perpus hanya numpang lewat saja di rak buku saya, mabuk pinjam dan dikembalikan lagi setelah tiga minggu. Bahkan saking kemaruknya saya pernah bawa pulang My Sister Keeper dari perpus, padahal saya sudah punya bukunya di rumah (hasil berburu dari Book Sale). Asyiknya, saya bisa 'belajar' bercerita dari novel-novel itu. Saya suka sekali gaya cerita Cecily von Ziegesar, penulis serial Gossip Girl (diterjemahkan nggak ya di Indo?). Ceritanya nakal sekali, tapi penulisnya pintar bertutur, membuat pembaca ...
    • Barbie this arvo? August 5, 2009
      Seperti itulah kira-kira kalau teman Aussie anda mengajak barbekyuan nanti sore. Seperti orang Indonesia, Aussie juga suka membuat singkatan: barbekyu menjadi barbie, afternoon menjadi arvo.Akhiran -ie atau -y sering sekali digunakan untuk menyingkat. Mereka sendiri menyebut dirinya Aussie. Setiap pagi mereka makan brekky sambil ngobrolin tentang footy (australian rules football). Terus anak-anak kecil pergi ke kindie sementara anak yang sudah besar (atau malah Bapaknya) berangkat ke uni.Supermarket besar di sini nama resminya Woolworth, tapi orang-orang menyebutnya Woolie. Di sini anda bisa beli vegies, tapi tidak bisa membeli cossy (swimming costume). Ada lelucon di sini yang mengatakan agama mereka adalah mengambil sickie pada hari Senin. Sickie adalah waktu cuti/bolos kerja karena sakit atau pura-pura sakit. Sickie di hari Senin memang banyak pengikutnya, untuk memperpanjang akhir pekan. Bahkan setelah libur panjang Chrissie pun mereka banyak yang ngambil sickie.Selain -ie, merek...
    • I've just googled myself and found my novel at googlebooks August 5, 2009
    • Koala vs Komodo July 28, 2009
      Orang Aussie fanatik sekali dengan hewan-hewan khasnya. Mereka punya Koala, Kanguru, Wombat, dan Buaya. Sementara kita juga punya hewan-hewan khas yang unik: Orang Utan, Anoa, Badak Bercula Satu, Cendrawasih dan Komodo. Sayangnya, apresiasi kita terhadap mereka hanya sebatas nama-nama yang harus kita hafal dari buku pelajaran sekolah.Anindya pertama kali melihat Komodo di Taronga Zoo, Sydney. Dia takjub melihat 'extra big lizard'. Lebih takjub lagi ketika dia tahu Komodo berasal dari Indonesia. "Wow, they're from Indonesia," teriaknya dengan nada bangga ketika membaca keterangan di depan kandang komodo. Lebih lanjut saya jelaskan kalau di Indonesia ada pulau bernama pulau Komodo, tempat tinggal para komodo. Anindya lebih ber-wow lagi.Anindya juga beberapa kali melihat film dokumenter tentang orang utan. Orang sini (dan juga Anindya) melafalkannya 'Oreng Uten'. Saya jelaskan kalau nama orang utan itu berasal dari kata Orang yang tinggal di Hutan. Mereka tinggal di hutan Kali...
    • Upacara Bendera July 27, 2009
      Di sekolah Anindya, upacara bendera digelar setiap hari Senin dan Jumat. Acaranya singkat dan efisien, tidak sampai 10 menit.Begitu bel berbunyi, anak-anak berlarian menuju halaman sekolah. Mereka membentuk barisan sesuai kelasnya. Tidak perlu lencang kanan-kiri, tapi lumayan rapi. Tiga menit kemudian bel kedua berbunyi. Para guru sudah siap di tempatnya, guru kelas di belakang barisan kelas masing-masing dan guru bidang studi berdiri di depan. Setelah bel kedua, kepala sekolah menghitung 1,2,3 dan anak-anak yang tadinya berdengung seperti kawanan tawon mendadak diam. Begitu juga dengan kumpulan orang tua di belakang mereka. Upacara siap dimulai.Satu wakil siswa menjadi pembawa acara. Satu siswa lain memegang tongkat berbendera. Lagu Advance Australia Fair dikumandangkan dari kaset. Anak-anak ikut bernyanyi dengan keras sementara para orang tua bergumam-gumam. Setelah lagu selesai, kepala sekolah memberikan pengumuman tentang kegiatan yang akan diadakan dalam minggu ini. Termasuk j...
    • Liburan Sekolah July 26, 2009
      Sekolah di sini enak, banyak liburnya. Enak untuk anak-anak (dan mungkin, guru), nggak begitu enak untuk orang tuanya.Kalender pendidikan dibagi menjadi empat term, sesuai musim. Masing-masing term hanya berlangsung sekitar 2,5 bulan. Tiap akhir term ada libur sekitar 15 hari. Libur musim panas lebih panjang lagi, sekitar 40 hari. Dimulai dari dua atau tiga hari menjelang natal sampai dengan awal Februari.Hari ini adalah hari terakhir liburan musim dingin. Besok Anindya sudah masuk sekolah lagi. Huah, betapa leganya saya. Minimal mulai besok saya tidak mendengar lagi kalimat, "I'm bored" yang diucapkan Anindya seperti dia menghela nafas. Susah sekali untuk entertain anak usia 7 tersebut. Memang ada beberapa hari yang dia saya antar ke rumah teman sebaya atau ada teman yang main ke rumah. Tetapi sesaat setelah mereka berpisah, belum juga si teman hilang dari pandangan, kalimat paten Anindya sudah terucap lagi. Saya menahan diri untuk tidak mengucap, "Me too. I'm really bored to hear y...
    • Ponsel Gratis, Mau? June 25, 2009
      Saya bukan tipe orang yang mau keluar banyak uang untuk membeli ponsel mahal dan canggih. Tapi kalau diberi gratis, lain lagi ceritanya.Penyedia layanan jaringan di Australia biasanya menerapkan sistem paket pascabayar kepada pelanggan. Dengan kontrak 24 bulan, pelanggan bisa mendapatkan ponsel secara gratis. Penggunaan atau tagihan minimal bervariasi, mulai dari $19 per bulan.Sejak pertama datang kesini akhir bulan Februari yang lalu, Nino langsung kontrak dengan Three dan mendapat ponsel gratis LG viewty. Kemudian setelah saya datang, Nino berusaha mendapatkan ponsel untuk saya juga. Sayangnya, untuk penduduk musiman dengan visa pelajar, hanya diperbolehkan satu kontrak. Sementara saya juga tidak bisa mendaftar sendiri karena tidak berpenghasilan (huhuhu, padahal saya berpenghasilan loh, hanya saja dalam rupiah). Untungnya setelah lewat tiga bulan dan Nino berhasil membuktikan kalau dia orang baik-baik, pihak Three mengabulkan permohonan kontrak kedua. Artinya, ponsel baru untuk sa...
    • Ada Apa Dengan Ayesha? June 10, 2009
      Pada hari ulang tahun Ayesha yang pertama, Nino menyelamati saya karena telah sukses memberi ASI untuk Ayesha selama setahun penuh.Saya memberinya ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan tetap memberi ASI tanpa campuran susu formula sampai sekarang. Tantangan membesarkan anak di sini terasa lebih berat karena tidak ada dukungan dari keluarga dan tidak ada pembantu, namun sisi baiknya adalah dukungan pemberian ASI jauh lebih baik daripada di Indonesia.Di sini, sejak lahir, Ayesha sudah langsung diberikan ke saya untuk disusui. Satu jam pertama, dalam balutan selimut, Ayesha sudah berusaha mencari sendiri puting susu ibunya. Selanjutnya, bayi tetap dirawat dalam satu ruang dengan ibunya. Perawat hanya sesekali datang kalau dibutuhkan, termasuk memberi tahu cara menyusui yang benar. Beda sekali dengan pengalaman saya melahirkan Anindya di Yogyakarta. Setelah melahirkan, setiap sore bayi Anindya dibawa oleh perawat dan baru dikembalikan esok paginya, begitu selama tiga hari say...
    • begitulah ceritanya, Multiply berubah biar nggak kesaing sama Facebook. June 10, 2009
    • Of Course You Can June 5, 2009
      "Of Course You Can," begitu semboyan dari Sydney Community College, lembaga kursus untuk masyarakat umum di Sydney. Lembaga ini melayani orang-orang dewasa yang ingin punya ketrampilan baru.Apa yang ada di benak Anda begitu mendengar kata kursus? Kalau saya, langsung ingat tetangga saya di Salam (this is somewhere between Jogja and Magelang, sorry, you couldn't find it in the map) yang membuka kursus menjahit, salon dan rias penganten. Di kota besar, kursus tentu lebih beragam lagi, dari kursus bahasa asing, komputer, main piano sampai menyetir mobil. Yang terakhir ini saya pernah ikut, dan jadi malu kalau ingat ^_^Di katalog Sydney Community College, saya menemukan kursus yang lebih beragam (dan aneh-aneh) lagi, mencakup berbagai macam minat dari olahraga, seni, bahasa, gaya hidup, sampai bisnis. Saya tertarik dengan beberapa macam kursus yang ada di situ, mengingat biayanya jauh lebih murah daripada biaya sekolah beneran di Uni, lagipula jangka waktunya pendek dan kelihatannya asyik....
    • Eh, anakku sudah bisa jalan sendiri... June 4, 2009
      Ayesha (11-month-old) started to walk. We're so happy to witness her
    • Ke Dokter June 3, 2009
      Syukurlah acara pergi ke dokter di sini enggak pakai was-was akan diperlakukan buruk, atau malah berakhir di penjara.Saya miris sekali membaca berita tentang Ibu Prita yang dipenjara gara-gara mengeluhkan buruknya layanan kesehatan yang diterimanya melalui surat elektronik pribadi. Saya tidak tahu apakah memang semua kejadian yang ditulis Ibu Prita benar, tapi tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Sangat mungkin keluhan dia benar mengingat kebiasaan kebanyakan orang Indonesia yang tidak protes kalau belum keterlaluan banget. Beda dengan orang sini yang sangat 'demanding'. Dokter-dokter yang ditulis Ibu Prita mungkin merasa sudah memperlakukan dia dengan baik. Mungkin sudah sesuai standar prosedur seperti biasanya. Tapi seperti apa sih standar pelayanan dokter di Indonesia? Apa mereka sudah mendengarkan pasien dengan baik? Apa mereka menjawab dan menjelaskan pertanyaan pasien? Apa mereka bersedia menjelaskan kegunaan obat yang diberikan? Apa mereka bersedia memberikan resep oba...
    • Vivid Sydney 2009: Light Walk May 31, 2009
    • Mengintip Sekolah Anindya May 25, 2009
      Hari ini ada open house di sekolah Anindya (7 tahun), berikut pameran karya seni dan parents brunch.Acara open house semacam ini memberi kesempatan pada orang tua murid untuk melihat kegiatan belajar mengajar di kelas. Tentu saja kesempatan seperti ini tidak kami lewatkan. Sebelum mengintip ruang kelas, kami melihat-lihat pameran karya seni murid-murid Hampden Park Public School (HPPS). Setiap siswa menampilkan satu karya mereka, entah itu lukisan, kolase, sketsa, gambar atau karya seni rupa yang lain. Tiap kelas mempunyai tema tersendiri. Tema kelas Anindya adalah membuat lukisan vas bunga.Hasil kreativitas anak-anak usia SD ini sungguh mengagumkan. Mereka tidak takut untuk mengeluarkan ide mereka dalam bentuk karya. Beberapa kelas mengambil tema Picasso. Dari tema Picasso saya menjumpai karya sketsa dan kolase yang unik. Mungkin tema Picasso ini cocok untuk anak-anak karena mereka tidak terintimidasi untuk membuat lukisan atau karya yang "indah" dan "sempurna". Saya jadi inga...
    • Hampden Park Public School Open House May 25, 2009
    • Oleh - Oleh Dari Sydney Writer's Festival May 24, 2009
      Saya sudah pesan jauh-jauh hari ke Nino untuk menjaga anak-anak agar saya bisa ikut satu kelas Sydney Writer's Festival.Sebenarnya banyak sekali kelas yang bisa diikuti, mengingat festival ini menghadirkan ratusan penulis lokal dan internasional. Cakupan tema yang digulirkan juga luas, dari kepenulisan buku anak-anak dan remaja sampai kepenulisan tentang penduduk pribumi. Dari buku tentang musik, makanan, skenario, puisi, perjalanan sampai buku sejarah dan politik.Acara ini diadakan di Sydney Dance Company, semacam sekolah tari di Walsh Bay, sebelah jembatan Sydney yang terkenal itu. Tempatnya asyik, cocok untuk duduk-duduk minum kopi dan makan kue-kue sambil ngobrolin buku-buku terbaru.Di hari terakhir festival, saya berkesempatan mengikuti diskusi panel dengan tema: Don’t Tell the Teenagers: Young Adult Fiction That’s "Too Hard" for Young Adults. Pembicaranya adalah tiga orang penulis novel remaja kenamaan: Mal Peet (UK), MT Anderson (US) and Margo Lanagan (Aussie). Biar nyambu...
    • Sydney Writer's Festival 2009 May 24, 2009
    • Temuan di Pinggir Jalan May 19, 2009
      Orang sini biasanya meletakkan begitu saja barang-barang yang sudah tak terpakai lagi di depan rumah mereka. Kalau ada barang-barang yang ditaruh di luar pagar, berarti sudah milik umum, siapa saja boleh mengambil.Ketika kami pertama kali datang ke Sydney, kami sering sengaja jalan-jalan untuk 'memulung' barang-barang bekas. Banyak yang kondisinya masih bagus. Alhasil, apartemen kami waktu itu penuh dengan barang-barang temuan seperti rak DVD, meja lukis, boneka, bahkan kasur. Sekarang sih kami tidak begitu bernafsu untuk menjadi 'pemulung'. Maklum, sudah lebih tahu di mana bisa cari barang-barang bagus dengan harga murah. Tapi minggu kemarin saya melihat stroller bagus tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Saya tidak tahan untuk tidak memungutnya (setelah tengok kanan kiri dan memastikan bahwa keadaan aman, hehehe). Masih bagus sekali, nyaris seperti baru. Stroller seperti ini kalau baru harganya sekitar $200 an. Saya sampai bingung menerka mengapa barang sebagus ini dibuang. M...
    • Baca Koran Pagi May 18, 2009
      Dengan adanya teknologi e-paper, kami sekarang bisa baca Kompas cetak pagi-pagi, lebih dulu dari pelanggan di Indonesia. Asyiknya lagi, layanan ini gratis.Syaratnya tentu saja sambungan internet dengan kecepatan tinggi. Sambungan internet pita lebar kami saat ini mencapai 2.375 kpbs (barusan saya cek, mohon maaf kalau ada yang iri ^_^). Dengan kecepatan seperti itu dibutuhkan sekitar 30 detik untuk membuka setiap halaman koran. Sebelum ada e-paper, kami sudah lumayan puas mengintip berita tentang Indonesia di kanal-kanal berita online. Tapi, rasanya kok lebih mantap kalau membaca koran tradisional, halaman per halaman. Saya juga kangen membaca koran minggu dengan cerpen dan benny&mice-nya. Nino juga terpuaskan membaca opini dan mengkritik segala macam huru-hara politik. Sudah saya bilang agar dia memulai menulis blog, daripada hanya saya yang menjadi pendengar setia komentar-komentar cerdasnya, tapi ya, memang calon phD yang satu ini sibuk sekali .Saya tidak perlu kecewa sa...
  • Recent Comments

Master of Instant Cooking

August 17th, 2006 | Uncategorized | No comments

The best things we have in our first month here, suprisingly, is the food.

It’s great to master my own kicthen, as in Malang, its the authority of our maid. hehehe.

We start cooking the simple things such as any ingredients w instant spices. no wonder if our cooking is always special. sate, soto, empal, rendang, nasgor, opor, ayam goreng, anything w instant spices. thanks for bamboe, and indofood and kokita, for making me not such an idiot cook.

then we dare to try another recipe w/o the instant help. and we’re still success. my Mum would not believe me if ‘this lazy girl’ can cook Sapi Lada Hitam w/ Paprika. Hem, yummy!

A.K.

Living in Suburb

August 17th, 2006 | Uncategorized | 2 comments

Rumah-tepatnya apartemen-kami, ada di suburb, sekitar 5 km sebelah barat kampus Nino (Sydney Uni) dan 30 menit dari kota(pakai mobil, bukan jalan kaki). Daerah ini, Dulwich Hill, banyak dihuni orang-orang Yunani. Selain itu, banyak juga orang-orang Vietnam, China (yep, they are everywhere), Libanon, Turki, Portugis. Pertama jalan-jalan di daerah ini, kami sama sekali nggak lihat ada bule. Nino bilang, "Tinggal di sini kayak tinggal di Denpasar aja. Orang-orangnya mirip orang Asia juga, kalau beruntung, baru bisa ketemu bule, hehehe." Untuk pergi ke kampus, kami naik bus. Dari rumah, jalan sekitar 7 menit (udah dengan Didi) ke bus stop. Bis di Sydney cukup nyaman, tapi emang mahal. Untuk ke kampus, aku harus bayar $2.8 sekali jalan. Biar lebih hemat, aku bisa beli travel ten, tiket bis untuk 10 kali pakai. Biar lebih hemat lagi, ya nggak usah pergi2, hehehe. Sementara Nino dapat consession(diskon) karena dia student, separuh harga. Didi masih gratis naik bisnya (thanks God). Mobil-mobil di Sydney jalannya kenceng bgt, tapi mereka bisa berhenti mendadak kalau ada lampu merah. Yang asyik, kalau mau nyebrang jalan, kami gak perlu tengok kanan kiri. Kami bisa nyebrang di tempat penyeberangan yg ada lampu penyeberangannya (biasanya di perempatan lampu merah). Didi seneng sekali pencet tombol penyeberangan. Selain itu, kami juga bisa nyebrang di zebra cross. Kalau ada orang nyebrang di sini, mobil harus berhenti, meskipun tidak ada lampu merahnya. Aku harus menghentikan kebiasaan tengok kanan kiri kalau mau nyebrang. Pernah aku takut nyebrang karena ada mobil melaju cepet banget. Tapi Nino segera menyeret aku, "Ayo, mobilnya pasti berhenti." Dan Ciiiittt, mobilnya berhenti mendadak. whii, ngeri juga.

Untuk belanja kebutuhan sehari-hari, kami tinggal jalan sekitar 5-6 menit ke kompleks pertokoan terdekat. Ada minimarket, toko sayur, toko roti, toko kelontong, toko daging, dan banyak resto kecil2. Kami langganan beli sayur di toko orang Vietnam. Pak nya yg jaga toko ini mengira aku bisa bahasa Cina. Dia nanya ke Nino, "Your boss speak Chinese?" tanyanya. Hehehe, dia juga bilang aku bos nya Nino, ada2 aja. "No, no, she cant speak Chinese." Mungkin karena tampangku emang mirip2 Chinese ya, atau malah mirip orang Vietnam. Pak nya tanya lagi ke aku, penasaran, "Are your grandfather’s grandfather’s grandfather from China?" Maksa banget ya dia.

Kami senang belanja2 di sini. Aku sudah mulai hafal rak-rak di minimarket IGA, mereka jual apa aja, serta daftar harga2nya (ini salah satu kelebihanku, hehehe). Aku dan Didi suka nyoba2 beli roti di toko yang berbeda2, terutama membandingkan croissant nya. Wah, croissant di sini enak2, meskipun gak ada isinya, tapi rasanya udah kayak ada kejunya. Yummy. Kami beli roti di toko orang Vietnam, Italy, Aussie dan Cina. Sementara ini pemenangnya Toko Orang Cina, hehehe… Masih banyak sih toko lainnya yg harus dicoba. Uhm, we love hot bread.

Untuk refreshing (refreshing apaan? gak ada kerjaan juga), Didi dan aku jalan-jalan ke Park deket rumah. Asyik banget, di sini di mana-mana ada taman, tempat bermain anak-anak. Didi seneng bgt bisa main2 ayunan, prosotan, anjut2an, monkey bar. Aku juga seneng bisa main2 tanpa harus menghabiskan uang. Di Indo, mana ada tempat bermain yg gak bayar? Sayangnya, beberapa hari ini sering hujan, jadi mainan2nya juga basah. Kami sudah nyobain taman di Morton Park, Marrickville Park, Enmore Park dan Victoria Park.

A.K.

Aroma Coffe Festival The Rock 23 July 2006

August 17th, 2006 | Uncategorized | No comments

Pertama aku baca pengumuman ttg acara ini di brosur, aku udah ‘ngecim’ untuk datang ke sana, mumpung gratis. Aku pernah baca juga ttg festival kopi ini tahun lalu di Kompas. Ah, nggak nyangka bisa bener2 ada di sana. Ternyata festival ini emang agenda rutin tiap tahun. Tempatnya di The Rock, seberangnya Opera House. Di sana ada beberapa stand kopi dari seluruh penjuru dunia. Di samping itu juga ada beberapa panggung untuk menampilkan musik dan tarian. Aku nggak tahu banyak tentang kopi dan nggak begitu suka kopi, tapi aku suka nyicip2 dan mencoba segala hal yg baru. Aku juga suka keramaian (gak seperti Nino).  Irene (Nino’s cousin) pecinta kopi, tahu banyak tentang kopi dan bisa bikin bermacam2 kopi. Dia ngajarin kami cara2 bikin kopi. Sementara Didi dan aku nonton tarian Africa di panggung utama, mereka berdua nyariin kopi. Irene ngasih kami kopi dari stan Voodo yg paling dekat dg panggung utama. Mereka pakai kopi arabica yg diperoleh dari berbagai negara, termasuk dari sumatra. Voodo ini menerapkan sistem fair trade, yaitu mereka memastikan bahwa kopi yg mereka beli dari negara dunia ketiga (yg tentu saja termasuk Indonesia) berasal dari petani2 yang terbayar keringatnya. Aku nyobain kopi espresso sementara Nino kopi dengan Mocca. Ternyata, aku lebih suka kopi yg lebih kuat kopinya, yg campurannya sedikit dan tidak terlalu manis. Sementara Nino (dan Didi) lebih suka yang manis.

See, I can be very happy with a cup of coffe. Thanks Irene for taking us there.

A.K.

Slightly Sydney

August 17th, 2006 | Uncategorized | No comments

Posted in www.adekumalasari.com August, 1st 2006

Kita belum ‘resmi’ berada di Sydney kalau belum ada foto di depan opera house atau Sydney Bridge. Minggu kemarin, 23 Juli, Nino, Didi, Irene (Nino’s cousin) n I jalan2 lihat kota. Sejak kedatanganku hari Jumat minggu sebelumnya, aku dan Didi emang belum jalan-jalan ke kota. Kami baru jalan2 ke sekitar rumah dan ke Sydney Uni. Kebetulan Irene, sepupu Nino yang memang tinggal di Aussie ngajak kami jalan2. Pucuk dicinta ulam tiba. Irene jemput kami dengan mobil di Dulwich Hill, 30 menit dari kota. Kami meluncur ke kota. Didi dan aku terheran2 lihat gedung2 tinggi (hehehe, ndeso-nya keluar). Kami juga lewat jembatan yg terkenal itu loh. Didi was very excited. Kami ke apartemen Irine di North Sydney dulu untuk markir mobil. Whua, apartemen nya di pinggir laut, view dari atas keren bgt.

Dari apartemen Irene kami jalan ke Mc Mahon Point untuk catch ferry ke Circular Quay. CQ ini dock yg ada opera house nya itu loh. Maksudnya ya cuma nyebrang bentar lewat bawah jembatan. Di Circular Quay kami turun dan jalan2 ke The Rock. Pas banget ada festival Coffe Aroma di sana. The Rock ini salah satu perkampungan tertua di Sydney, semacam Malioboro yg di Jogja gitu lah. Di sana ada Market nya juga yg jualan berbagai macam pernak-pernik. Aku sih gak begitu suka pasar (karena gak ada uang, hehehe). Irene juga gak suka, she said, "I dont like market. I’d rather spend it on food." Setuju deh Mbak! Akhirnya dari The Rock market kami balik lagi ke arena festival kopi. Hem, it smell good. Irene dan Nino cari kopi sementara aku dan Didi menikmati tari2an yg disuguhkan di panggung utama.

Setengah jam kemudian Didi udah capek dan lapar. Iya, kasian dia karena acaranya jalan-jalan doang, sementara kami juga gak mau gendong. Akhirnya, sesuai rencana (dan budget) kami makan di Mc D terdekat, di Circular Quay juga. Di sini Mc D paling murah dibandingkan resto lainnya. $4.6 untuk happy meal, $1,75 untuk hamburger biasa, $2 untuk cheeseburger dan $1.5 untuk small coke. Sip lah, meskipun gak kenyang2 bgt, yg penting Didi abisin makanannya.

Dari Circular Quay kami naik Ferry lagi ke Darling Harbour. Ini juga dekat sih, tapi muter2 dulu di sekitar situ. Lumayan untuk sightseeing dan foto2, hehehe. Di Darling Harbour, kami masuk ke Sydney Aquarium yg emang di sebelahnya dock kapal. Sydney Aqua ini ya semacam SeaWorld gitu deh yg di Jakarta. Koleksinya emang lumayan, ada beberapa yg unik2, semacam Platypus, ikan yg punya paruh seperti bebek. Terus ada buaya (darat) Aussie yg terkenal itu. Tahu nggak, seal nya di sini namanya Nino, hehehe. Di touch pool, Nino (Nino-ku, bukan Nino the Seal) sempat berani memegang shark loh, ehm, maksudnya baby shark, hehehe. Aku sih gak suka pegang2 hewan, geli. Terus, yg paling menarik dari Sydney Aqua emang shark aquariumnya. Perairan Aussie emang terkenal dg sharknya (makanya mereka suka surfing di Bali). Setelah Shark Aquarium, kami menikmati ikan2 yg hidup di Great Barrier Reef, Nemo (clown fish) dan teman2nya).

Dari Darling Harbour, kami balik lagi ke utara, mampir dulu ke Luna Park untuk menyenangkan Didi. Luna Park adalah amusement park yg ada di pinggir Sydney Bridge. Didi tahu Luna Park ini dari film Ashley dan  Mary-Kate Oshlen yg syutingnya di Sydney. Makanya Didi excited banget. Akhirnya dia berani naik 3 rides yang untuk anak2 yg tingginya di bawah 106 cm. Hehehe, mini banget yah anaknya.

Dari Luna Park, kami harus naik ferry lagi kembali ke Mc Mohan point untuk balik ke apartemen Irene. Wah, capek banget tapi puas. Di apartemen, kami dijamu dengan sate ayam. Argh, sate ayam di sini potongannya guedhe2, sampai gak bisa habis sekali makan. Oh, what a great day!

A.K.

Border Security

August 17th, 2006 | Uncategorized | No comments

Posted in www.adekumalasari.com 1st August 2006

Tiap hari Selasa malam di chanel 7 ada acara reality show "Border Security". It claimed to be the number one reality show in aussie. Isinya tentang orang-orang yang ketangkap di custom bandara, either di bandara Sydney atau bandara internasional lain di aussie. fyi, aussie emang ketat sekali untuk urusan ‘barang-barang’ yg boleh di bawa masuk ke sini. Liat aja brosur Quarantine mereka: Declare or Beware! wah, nadanya mengancam. Intinya, kalau masuk aussie kita gak boleh bawa makanan mentah atau raw material, apalagi tanaman yg masih bisa hidup dan juga biji2an dan dairy. Makanan yg boleh dibawa adalah yg udah dipak, instant atau dalam kemasan. Jangan sampai bawa terasi atau petis dalam bungkus daun pisang deh, bisa kenak denda $200 ntar, berabe kan?

Setiap akan melewati Custom (bea cukai) kita disuruh mengisi passenger card, u declare barang2 yg kita bawa. Untuk lebih amannya, mending thick yes semua di 11 pertanyaan itu, karena kalau ternyata kita bawa barang yg mereka maksud, tapi kita gak declare, bisa didenda. ugh, jangan sampai deh. barang2 yg dideclare ini termasuk sepatu yg kemungkinan ada sedikit tanahnya (gak mungkin kan sepatu yg kita pakai gak ada bekas tanahnya, kecuali emang sepatu baru).

Nino mulus melewati custom. emang sih mestinya dia lolos karena gak bawa apa2 yg mencurigakan (tampangnya kan juga handsome, gak mencurigakan, hehehe). Cuman ditanya soal kunir putih (kami biasa pakai untuk minuman antibiotik alami kalau pas flu atau sakit tenggorokan, manjur loh). Nino bilang: ah, this is from another kind of ginger. ya, something like that lah, hehehe.

Mendengar kabar Nino lolos di custom, aku euforia membawa segala macam makanan yg mungkin. Aku bawa 1 koper besar yang isinya makanan doang. Ada mie instant (wajib nih) dari segala macam merk dan rasa, bumbu2 instant(juga segala macam bumbu yg bisa ditemukan di supermarket), bumbu2 bubuk, biji kemiri, blueband, kecap manis, kecap pedas, sambal, saos tomat, saos rajarasa, sampai minyak goreng (iseng banget ya? ternyata bimoli nya jadi beku di sini lebih ampuh pakai canola oil). Aku juga bawa teh celup, sarden kaleng, mackarel, abon, milo, nescafe. Petugas di custom yg meneliti barang yg dideclare lumayan ramah. Mestinya emang harus ramah u orang2 baik dan tidak mencurigakan semacam aku ini, hehehe. Lagian kami udah menunggu hampir 1,5 jam untuk sampai di pemeriksaan. Sampai ilfil deh. Barang2ku yg disita adalah: milo, nescafe dan bumbu susu dari makaronicheese instant. Katanya ada dairy produk nya. padahal itu udah makanan kemasan loh. gak ngerti deh, padahal di sini juga ada nescafe dan milo persis seperti yg aku bawa. Katanya cuma boleh bawa dairy produk yg untuk bayi, tapi harus sekalian bawa bayinya. Sustagen untuk didi lolos. Malah abon bisa lolos. Gula jawa juga lolos, cuman dia sempat nanya. This is palm sugar. Dia amazed juga. Soalnya gula jawaku udah agak penyet2 gitu, hehehe. Huf, lolos dari custom, Didi and I segera berlari ke exit B bandara untuk ketemu ama Nino yg udah nunggu lamaaaaa bgt. Finally we met and live happily ever after ;)

A.K.